Tamu Tengah Malam

            TAMU     TENGAH MALAM





Di sebuah rumah sederhana di pinggir kota, malam itu hujan deras mengguyur. Rina, seorang ibu rumah tangga berusia 35 tahun, sedang duduk di ruang tamu bersama adiknya, Sinta (28 tahun), dan sahabatnya, Lina (32 tahun). Mereka bertiga baru saja selesai mengobrol santai sambil minum teh hangat. Suaminya, Budi (38 tahun), sudah tidur lebih dulu di kamar belakang karena besok pagi harus kerja.


"Malam ini hujannya nggak berhenti-berhenti ya, Rin," kata Sinta sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Ia adalah adik Rina yang baru pulang dari luar kota, tinggal sementara di rumah kakaknya.


"Iya, untung kalian mau nemenin aku malam ini. Sendirian pasti takut," jawab Rina sambil tertawa kecil. Lina, yang bekerja sebagai guru, mengangguk setuju. "Benar, Rin. Rumah ini kan agak sepi, apalagi Budi suka tidur cepat."


Tiba-tiba, ketukan pelan terdengar dari pintu depan. Tok... tok... tok. Mereka bertiga saling pandang, mata melebar. Siapa yang datang jam segini? Hujan masih deras, jalanan gelap.


"Siapa tuh? Budi, bangun!" bisik Rina panik, tapi suaminya tak mendengar. Sinta berani maju, mendekati pintu. "Mungkin tetangga butuh bantuan," katanya, meski suaranya gemetar.


Lina ikut mendekat, tangannya memegang gagang pintu. "Jangan dibuka sembarangan, Sint. Bisa-bisa maling!" Mereka mendekatkan telinga ke pintu. Tok... tok... tok lagi, lebih keras.


Akhirnya, Sinta membuka pintu sedikit. Di luar, berdiri seorang perempuan asing berpakaian basah kuyup, rambutnya menempel di wajah pucat. Usianya sekitar 30-an, matanya merah seperti habis menangis. "Maaf... boleh minta tolong? Mobil saya mogok di depan. Saya butuh tempat berteduh sebentar," katanya lirih, suaranya hampir tertutup deru hujan.


Rina, yang kini berdiri di belakang Sinta, langsung iba. "Masuk dulu, Mbak. Basah gitu nanti sakit." Mereka membiarkan perempuan itu masuk. Namanya Mira, katanya. Ia duduk di sofa, menggigil. Lina buru-buru ambil handuk dan secangkir teh panas.


Sementara itu, Budi terbangun karena suara gaduh. Ia keluar dari kamar, mengucek mata. "Ada apa ini? Siapa ini?" tanyanya bingung, melihat istrinya dan dua perempuan lain mengelilingi tamu tak dikenal.


"Ini Mira, Mas. Mobilnya mogok. Kasihan, hujan deras gini," jelas Rina. Budi mengangguk, meski curiga. Ia pergi ke jendela, melirik ke luar. Tak ada mobil mogok di depan rumah. Hanya pohon-pohon bergoyang ditiup angin.


Mereka mulai mengobrol. Mira bercerita bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang dari kunjungan keluarga, tapi mobilnya tiba-tiba mati. "Saya sendirian, tak ada yang bisa dihubungi malam-malam gini," katanya sedih. Sinta dan Lina kasihan, tapi Rina merasa ada yang aneh. Wajah Mira terlalu pucat, dan tangannya dingin seperti es.


Tiba-tiba, Mira bangkit. "Terima kasih ya. Saya harus pergi sekarang." Tapi hujan masih deras. Budi menawarkan telepon untuk panggil bantuan, tapi Mira menolak. "Nggak usah, Pak. Saya bisa jalan kaki."


Ketika Mira membuka pintu untuk pergi, angin kencang menerpa. Lampu rumah redup sejenak. Saat cahaya kembali, Mira sudah hilang di kegelapan. Mereka berempat berlari ke teras, tapi tak ada siapa-siapa. Hanya genangan air dan jejak kaki basah yang menguap perlahan.


"Siapa dia sebenarnya?" gumam Lina, jantungnya berdegup kencang. Sinta memeluk Rina. "Kayak hantu... tamu tengah malam yang misterius."


Budi menggelengkan kepala. "Mungkin tetangga yang lupa nama. Tapi aneh, nggak ada mobil." Malam itu, mereka tak bisa tidur. Cerita tentang Mira menjadi rahasia keluarga, pengingat bahwa tak semua tamu datang dengan niat baik. Sejak saat itu, pintu rumah selalu dikunci rapat sebelum tengah malam.


(Word count: 512)

Komentar

  1. se seram seramnya tamu tengah malam lebih seram tamu yang dtng dipagi hari tampa membawa undangan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelajaran Kerja sama Di Desa